Kisah 'Supit Urang', Strategi Soedirman Menangkan Pertempuran ... | Liputan 24 Jawa Tengah
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Kisah 'Supit Urang', Strategi Soedirman Menangkan Pertempuran ...

Posted by On 5:06 PM

Kisah 'Supit Urang', Strategi Soedirman Menangkan Pertempuran ...

CERITA PAGI

Kisah 'Supit Urang', Strategi Soedirman Menangkan Pertempuran Ambarawa

SM Said

Kisah Supit Urang, Strategi Soedirman Menangkan Pertempuran Ambarawa
Pelantikan Panglima Besar Jenderal Soedirman oleh Presiden Soekarno pada 18 Desember 1945. Foto Ist/Perpustakaan Nasional
A+ A- Hari Juang Kartika pada Jumat 15 Desember 2017, kemarin diperingati oleh Prajurit TNI Angkatan Darat (AD) untuk mengenang kemenangan pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR-sekarang TNI) yang dipimpin Kolonel Soedirman dalam Pertempuran Ambarawa melawan Tentara Sekutu yang membonceng NICA.
Dalam pertempuran tersebut Kolonel Soedirman K omandan Divisi V menerapkan strategi Supit Urang atau Supit Udang dalam menghadapi Tentara Sekutu dengan peralatan canggih yang membonceng NICA.
Sebelum pertempuran pecah diawali dengan kedatangan tentara Sekutu pimpinan Brigjen Bethel di Semarang pada 20 Oktober 1945. Mereka datang untuk mengurus tawanan perang. Pihak Sekutu berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan RI. Sehingga Indonesia memperkenankan mereka masuk ke wilayah RI untuk mengurus masalah tawanan perang bangsa Belanda yang berada di penjara Magelang dan Ambarawa.
Setelah mendapat persetujuan dari Gubernur Jawa Tengah pada waktu itu yaitu Mr Wongsosonegoro, Tentara Sekutu kemudian bergerak masuk ke Magelang dan Ambarawa.
Namun ternyata Sekutu membonceng NICA yang malah mempersenjatai bekas para tawanan perang Belanda. Dimana pasukan Sekutu membebaskan para interniran Belanda di Magelang dan Ambarawa dan mempersenjatainya.
Pada 26 Oktober 1945, terjadi insiden di Kota Magelang yang berkembang menjadi pertempuran antara pasukan TKR dengan pasukan gabungan Sekutu Inggris dan NICA.
Insiden itu berhenti setelah Presiden Soekarno dan Brigadir Jendral Bethel datang ke Magelang pada 2 November 1945.
Mereka mengadakan gencatan senjata dan memperoleh kata sepakat yang dituangkan dalam 12 Pasal, naskah persetujuan itu diantaranya berisikan:
1. Pihak sekutu akan tetap menempatkan pasukannya di Magelang untuk melindungi dan mengurus evakuasi APWI ( Allied Prisioners of War and Interneers) atau tawanan perang dan interniran sekutu).
2. Jalan Ambarawa-Magelang terbuka sebagai jalur lalu lintas Indonesia-Sekutu.
3. Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dalam badan-badan yang berada di bawahnya.
Pihak Sekutu ternyata mengingkari janjinya. Kemudian pada 20 November 1945, terjadi pertempuran antara pasukan TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto dengan tentara Sekutu di Ambarawa.
Pasukan TKR bersama-sama dengan pasukan dari Boyolali, Salatiga, dan Kartasura bertah an di kuburan Belanda, sehingga membentuk garis medan sepanjang rel kereta api dan membelah Kota Ambarawa.
Sementara itu dari arah Magelang, pasukan TKR dan Divisi V Purwokerto di bawah pimpinan Imam Androngi melakukan serangan fajar pada 21 November 1945, dan berhasil menduduki Desa Pingit dan desa-desa di sekitarnya yang sebelumnya diduduki Sekutu.
Batalyon Imam Androngi meneruskan gerak pengejarannya disusul tiga batalyon dari Yogyakarta, yaitu Batalyon 10 divisi III dibawah pimpinan Mayor Soeharto, Batalyon 8 di bawah pimpinan Sardjono dan Batalyon Sugeng. halaman ke-1 dari 3
  • 1
  • 2
  • 3
Follow Us : Follow @SINDOnewsSumber: Google News | Liputan 24 Salatiga

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »